LIFESTYLE

Tampilkan postingan dengan label LIFESTYLE. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LIFESTYLE. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 September 2019

Rutin Melakukan Push up Bagus Untuk Kesehatan Jantung Kita


Rutin Melakukan Push up Bagus Untuk Kesehatan Jantung Kita

Push up sebagai bagian dari latihan dada mungkin sering terlewatkan. Padahal, melakukan push up ternyata bisa menurunkan risiko penyakit kardiovaskular dan membuat hidup lebih panjang, terutama bagi pria dewasa.

Namun, ada batasan jumlah push up yang harus dilakukan. Setidaknya, kamu bisa rutin melakukan 40 kali push up.

Jumlah itu didapatkan dari penelitian selama satu dekade yang mencakup banyak hal, mulai dari diagnosa penyakit arteri koroner dan masalah besar, seperti gagal jantung.

Manfaat tersebut akan lebih dirasakan oleh mereka yang sanggup melakukan push up 40 kali dibandingkan yang hanya melakukan 10 push up atau kurang dari jumlah tersebut.

"Penemuan kami membuktikan bahwa push up bisa menjadi metode yang mudah dan tidak berbiaya untuk membantu memeriksa adanya tanda penyakit kardiovaskular dalam hampir segala situasi," kata penulis studi, Justin Yang.

Hal yang mengejutkan, kapasitas push up ternyata lebih terkait dengan penurunan risiko penyakit kardiovaskular ketimbang tes treadmill submaksimal.

Riset yang dilakukan oleh para residen kedokteran di Departemen Kesehatan Lingkungan Harvard tersebut sebetulnya pada awalnya diketahui sebagai studi untuk mengidentifikasi keterkaitan push up dan penyakit kardiovaskular.

Tim peneliti mendapatkan hasil setelah menganalisa data kesehatan dari 1.104 petugas pemadam kebakaran pria dengan rata-rata usia 39,6 tahun dan indeks massa tubuh (BMI) 28,7.

Kapasitas push up dan latihan treadmill setiap orang dicatat pada awal studi sebelum mereka melanjutkan dengan pemeriksaan fisik dan kesehatan tahunan.

Selama masa studi satu dekade tersebut, ada 37 orang yang dilaporkan memiliki penyakit kardiovaskular.

Para pria tersebut adalah mereka yang melakukan push up sebanyak 40 kali atau kurang selama latihan dasar.

Dari hasil ini, para peneliti menyimpulkan bahwa pria yang bisa melakukan lebih dari 40 push up mampu mengurangi risiko penyakit kardiovaskular hingga 96 persen.

Namun, sebelum menargetkan 40 kali push up, para peneliti studi menggarisbawahi bahwa subjek mereka adalah pria usia dewasa menengah yang aktif secara fisik karena profesinya.

Dengan kata lain, bagi pria maupun wanita yang kurang aktif mungkin diperlukan latihan kaki dengan porsi lebih banyak.

Meski begitu, dari penelitian sebelumnya disampaikan bahwa meningkatkan kekuatan otot adalah kunci utama memperpanjang usia. Baik melalui push up maupun latihan lainnya yang dapat membangun otot.

Senin, 05 November 2018

Benefit Dari Bermain Media Sosial


Benefit Dari Bermain Media Sosial

Mungkin kita telah terbiasa mendengar sederetan "kabar buruk" yang mengikuti keberadaan telepon selular dan akses ke media sosial.

Mulai dari potensi pemicu depresi bagi penggunanya, merusak hubungan sosial, hingga dampak buruk bagi kualitas tidur.

Namun, di antara semua keburukan itu, sesungguhnya tidak melulu hal negatif yang muncul dari keberadaan media sosial.

Ada hal-hal yang bisa mendatangkan kebahagiaan dan berdampak positif bagi kesehatan, selama kita bisa menggunakan media sosial dengan bijak.

Cobalah simak uraian di bawah ini. Tentu sulit untuk tidak setuju dan mengamini bahwa media sosial bisa menjadi sesuatu yang mendatangkan benefit yang mengagumkan.

1. Media sosial bagi manula

Keberadaan media sosial diyakini telah menjadi alat, atau pembantu bagi para kaum "manula" untuk merasa tak terlalu terisolasi dalam kehidupan ini.

Mungkin bagi kebanyakan dari kita pernah merasa, terkadang media sosial justru membuat kita sepeti sendiri dan terisolasi.

Tapi, pernahkah pula kita membayangkan, manfaat medsos bagi mereka yang sudah berusia lanjut?

Sungguh, sebuah akun Facebook -misalnya, bisa mendatangkan dampak yang sebaliknya bagi mereka.

Sebuah penelitian yang digelar di Inggris mempelajari dampak dari kepemilikan sebuah komputer terhadap sebuah kelompok responden yang terdiri dari orang-orang berusia 60-95 tahun.

Hasilnya, ada efek yang luar biasa baik bagi kelompok responden tersebut.

Mereka yang dilatih untuk menggunakan komputer mengalami akselerasi dalam hal perasaan bangga terhadap kompetensi personal.

Lalu, mereka pun kian berpartisipasi dalam lebih banyak aktivitas sosial. Kemampuan kognitif pun meningkat, dan mereka menunjukkan identitas pribadi yang lebih baik.

"Orang yang terisolasi secara sosial atau yang mengalami kesepian lebih rentan terhadap penyakit dan penurunan kondisi kesehatan."

Demikian dikatakan Dr. Thomas Morton, pimpinan dalam penelitian itu, seperti dikutip laman care2.com.

"Berangkat dari pemahaman itu, menemukan cara untuk membangun koneksi sosial menjadi hal yang amat penting."

Studi ini, kata Morton, telah menunjukkan bagaimana teknologi dapat menjadi alat yang berguna untuk mewujudkan koneksi sosial.

Media sosial mendukung para manula untuk bersosialisasi yang akhirnya mendatangkan dampak yang baik bagi kesehatan dan kesejahteraan mereka.

2. Penderita penyakit kronis

Para penderita penyakit kronis tidak hanya menggunakan internet untuk mempelajari kondisi kesehatan mereka.

Namun, internet pun digunakan untuk terhubung dengan orang lain yang mengerti tentang apa yang mereka alami.

Dengan media sosial, mereka bisa meneliti biaya perawatan kesehatan, dan berdiskusi terkait kondisi mereka.

"Kelompok pendukung online membantu saya mempelajari penyakit ini dan memberikan kenyamanan untuk mengetahui bahwa gejala saya tidak 'hanya di kepala saya', dan membantu saya mengambil langkah untuk menyesuaikan diri dengan kondisi kronis."

Demikian kutipan sebuah komentar dalam forum online.

Tak hanya itu, ada pula yang mengaku sebagai warga di kota terpencil dan keberadaan forum online amat membantu dia dalam melawan penyakit kronisnya.

"Dengan internet, saya terbantu untuk menemukan orang lain yang mengalami kondisi yang sama dengan saya," begitu bunyi kesaksian tersebut.

3. Tujuan mencapai kesehatan

Berniat lari sejauh lima kilometer? Atau mungkin ingin menurunkan berat badan 10 kilogram?

Ada banyak aplikasi yang mendukung "cita-cita" itu.

Nah, sebuah penelitan mengungkap, mereka yang sedang berusaha menurunkan bobot tubuh dan membagikan perkembangannya di media sosial, mengalami akselerasi yang lebih cepat.

Kondisi itu -tentu saja, dibandingkan dengan mereka yang melakukan upaya serupa, namun hanya diam dan tak menyentuh media sosial.

Jadi, dukungan sosial memang memiliki arti yang penting dalam mendongkrak motivasi.

Untungnya, dukungan sosial itu kini tak mesti berupa interaksi tatap muka saja, bukan begitu?

4. Mempererat hubungan

Mungkin saja, 80 persen dari waktu kita berselancar di Facebook dipakai untuk memeriksa seberapa sukses, atau seberapa botak karib kita di masa SMA dulu.

Terlepas dari fakta itu, media sosial masih memiliki fungsi penting lainnya dalam menjaga tali silaturahmi.

Sebuah studi di Amerika Serikat terhadap 900 mahasiswa dan lulusan perguruan tinggi mengungkap, 47 persen responden mengaku berkomunikasi dengan kawan yang menetap di daerah lain.

Lalu, ada 28 persen yang mengaku berkomunikasi di Facebook dengan orang-orang di kota yang sama.

Dan, ada 35 persen yang mengaku berkomunikasi dengan keluarga di Facebook.

5. Medsos dan dokter

Banyak dokter yang juga menggunakan media sosial untuk tujuan profesional.

Sebagian dari jumlah itu mengaku memakai medsos demi memberikan pelayanan yang lebih baik bagi pasien.

Dengan demikian, dapat kita lihat bagaimana dokter akan memberikan layanan yang lebih baik bagi pasien, termasuk dengan metode pelayanan terkini dan efektif.

Hal itu dapat lebih mudah mereka dapatkan, berkat koneksi dengan sesama anggota komunitasnya.

6. Menebar kebahagiaan

Dalam analisis data unggahan di Facebook, terungkap bahwa suasana hati menyebar, dan pembaruan status positif sebenarnya memiliki dampak yang lebih besar dari yang dikira.

Setiap unggahan positif menyebarkan hal positif dalam jumlah yang lebih signifikan dibandingkan unggahan negatif.

"Saya pikir secara keseluruhan ini adalah kabar baik karena hal ini menunjukkan bahwa kita memiliki mekanisme yang sekarang tidak kita miliki 10 tahun yang lalu."

"Mekanisme ini dapat secara dramatis memperkuat pesan positif yang kita kirim dan yang kita terima," kata peneliti James Fowler kepada Fast Co.Exist.